Jumat, 24 September, 2021

Sejarah Masjid Ki Marogan (MuaraOgan) Palembang

Jasa Pembuatan Website Palembang

Masjid Ki Marogan adalah masjid tertua kedua di Palembang setelah Masjid Agung Palembang menurut sejarah Masjid ini didirikan oleh seorang konglomerat kaya bernama Masagus Haji Abdul Hamid bin Mahmud atau biasa yang dikenal dengan Kiai Muara Ogan disebut demikian karena Kiai Muara Ogan tinggal di sekitar muara sungai Ogan yang merupakan anak Sungai Musi

Masjid ini dibangun oleh Kyai Masagus Haji Abdul Hamid bin Mahmud atau lebih dikenal dengan nama Kiai Marogan dibangun pada tahun 1871 Masehi dan namanya diabadikan juga di abadikan pada jembatan Kertapati sampai flyover Musi 2.

Sejak tahun 1800 Masehi masjid Ki Marogan ini sudah tiga kali direnovasi pertama kali tahun 1950 kemudian tahun 1989 tahun 2006.
Pada 1989 Masjid Ki Marogan direnovasi oleh Haji Abdul Halim seorang pengusaha di kota Palembang yang juga seorang Dermawan dengan biaya pribadi, Masjid Ki Marogan diresmikan oleh pada waktu itu menteri kehutanan Hasjrul Harahap.

Baca Juga : Sejarah Masjid Agung Palembang

Selain Masjid Ki Marogan ada satu lagi masjid yang dibangun oleh Kyai Marogan yaitu Masjid Lawang Kidul yang terletak dikawasan bom baru Palembang.

Selain menjadi pengusaha Kyai yang lahir pada tahun 1811 masehi ini juga seorang pendakwah dakwah Kyai bukan hanya di Palembang saja tetapi masyarakat yang ada di luar Palembang sangat mengakui eksistensinya sebagai ulama besar .

Terdapat Makam Suriyat Ki Marogan Area Masjid.

Menurut sejarah pada waktu Ki Marogan lahir Kesultanan Palembang sedang mengalami peperangan yang sengit dengan masa kolonial Hindia Belanda

Menurut Sejarahnya ayahanda Ki Marogan seorang pengusaha yang sukses pada waktu itu dia nama orang tuanya yaitu Masagus Haji Mahmud juga seorang ulama yang terkenal di kota Palembang, Ibu Ki Marogan bernama Ferawati yang keturunan Tionghoa.

Banyak ajaran Ki Merogan yang sampai saat ini masih melekat bagi masyarakat Palembang diantaranya adalah sebuah dzikir yang selalu dibacakan Ki Marogan bersama santri-santrinya di atas Perahu sepanjang perjalanan santri-santrinya selalu berdzikir dengan suara yang lantang.

Menurut Taufik Hasnuri, Bagi zuriat keturunan beliau dan kita sebagai orang yang cinta kepada beliau untuk mengikuti beliau beliau sangat baik di dalam hubungan silaturahmi beliau tidak ada kebencian dan permusuhan biarpun orang itu menjolimi menjahati beliau beliau tetap menyambung silaturahmi beliau senantiasa menyantuni masyarakat menyantuni orang-orang yang tidak mampu.

Masjid Ki Marogan, hingga saat ini masih sangat banyak dikunjungi peziarah yang datang ke kuburan beliau baik dari lokal maupun masyarakat dari luar Kota Palembang.

Lokasi Masjid Ki Marogan

REKOMENDASI

TERKAIT

- Advertisement -eyJwaG9uZSI6Ikphc2EgUGVtYnVhdGFuIFdlYnNpdGUgUGFsZW1iYW5nIn0=