Kamis, 8 April, 2021

Sejarah Kampung Arab Al Munawar Palembang

Jasa Pembuatan Website Palembang
Kampung Arab Al Munawar

Kampung Arab  atau Perkampungan Arab Al-Munawar merupakan sebuah perkampungan yang sudah ada sejak Abad 18, hingga kini menjadi salah satu Objek Wisata Religi yang ada di Kota Palembang.  Rumah-rumah kuno di kampung ini berjumlah delapan bangunan yang didirikan oleh Habib Abdurrahman Al-Munawar untuk anak-anaknya yang sudah menikah.

Rumah-rumah tersebut menurut salah satu tokoh masyarakat,Rumah-rumah ini sudah di tempati lebih kurang sudah di tempati oleh tujuh sampai delapan generasi, sehingga diyakini umurnya antara 200-300 tahun. Kenapa di sebut AlMunawar, menurut tokoh masyarak itu sebuah nama untu suku, seperti pada masyarakat Palembang sendiri ada Kyai Agus, Nyayu, Nyimas dan lain sebagainya atau bisa disebut juga sebagai marga sebuah keluarga.

Sebelum datang ke kota palembang Habib Abdurrahman Al-Munawar lebih dulu singgah ke kota bangka Bangka belitung dan menetap di sana untuk beberapa waktu. Saat datang ke Palembang Habib Abdurrahman Al- Munawar di yakini masih lajang belum menikah.

Kampung Arab Al Munawar

Dari total 17 bangunan rumah yang ada di kawasan Kampung Arab AlMunawar ini, hanya delapan rumah saja yang menjadi cagar budaya. Kedelapan rumah tersebut mulai dari Rumah Tinggi, Rumah Kembar Laut, Rumah Limas hingga Rumah Batu. Dan jumlah penduduk di kampung Arab ini hanya sekitar 300 orang atau sekitar 30 kepala keluarga.

Umumnya mereka berprofesi sebagai pedagang sekaligus menjadi ustadz, penceramah ataupun guru mengaji. Sejarah berdirinya rumah delapan ini dari pendiri kampung Al-Munawar ini yakni Habib Abbdurahman yang memiliki delapan orang anak. Jadi saat anak pertama lahir mereka Habib abdurahman mendirikan rumah untuk anaknya, lahir anak kedua di bangun kembali sebuah rumah untuk anak yang kedua, selanjutnya lahir la anak kembar di buatlah oleh Habib Abddurahman rumah kebar dan seterusnya begitu setiap anak yang lahir atau setiap anak dari Habib Abdurahman di buatkan rumah olehnya.

Sama halnya seperti masyarakat melayu pada umumnya penduduk kampung Arab Al-Munawar juga memiliki adat istiada sendiri. Ada yang memang berasal dari keturunan mereka dan ada juga adat istiadat yang sudah membaur menjadi satu dengan masyarakat melayu. Banyak sekali Aktivitas Keagamaan seperti nama kampungnya yakni kampung Arab. Menurut tokoh masyarakat yang ada di Al-Munawar mengatakan bahwa banyak sekali aktivitas keagamaan yang diselenggarakan di kampung Arab dari dulu hingga saat ini.

6 Rumah yang terdapat di Kampung Al Munawar

RUMAH KEMBAR DARAT (dibangun akhir abad 18)

Rumah ini merupakan dua rumah dengan bentuk sama yang saling berhadapan. Posisinya menghadap ke sungai Musi dan terdapat lapangan luas sebagai pemisah dengan rumah yang sama menghadap ke utara. Rumah ini berdinding bata sedangkan lantai dua berdinding kayu. Di lantai atas bagian muka rumah, terdapat tiga jendela, yang ukurannya menyerupai pintu. Sedangkan di sisi kiri dan kanan, terdapat jendela yang berukuran sekitar sepertiga tinggi dinding. Rumah Kembar Darat sebelah selatan ini merupakan rumah yang lebih dahulu dibangun dibanding sebelah utara.

Rumah Kembar Darat memiliki ruang terbuka di bagian belakangnya. Teras terbuka terletak di bagian muka lantai bawah. Teras ini ber-“atap”-kan lantai atas. Di teras bagian kiri, terdapat tangga sebagai jalan dari lantai bawah ke lantai dua dan sebaliknya. Di bagian tengah rumah lantai bawah, terdapat ruang tamu dan kamar tidur. Bagian belakang terdiri dari teras terbuka, ruang makan dan dapur, serta ruang terbuka.

Lantai atas rumah ini juga terdiri dari tiga bagian. Bagian depan berupa teras tertutup dan bagian tengah berupa ruang-ruang yang berfungsi sebagai kamar tidur, sedangkan bagian belakang berupa teras tertutup. Rumah ini beratap perisai silang. Konstruksi dan struktur “kembaran” rumah ini juga sama. Bedanya, posisi tangga di sisi kiri, sehingga letaknya simetris ketika berhadapan dengan rumah di hadapannya.

Rumah Kembar Darat ini merupakan rumah keempat yang dibangun, diperuntukkan bagi putra keempat Abdurrahman Al Munawwar, yaitu Al Habib Hasan Al Munawwar.

RUMAH DARAT (Dibangun Akhir Abad 18)

Rumah yang letaknya berhadapan dengan Rumah Tinggi, berbentuk limas dan berbahan kayu secara keseluruhan. Bentuk lantainya bertingkat (kekijing), dengan bagian-bagian lantai menyerupai rumah limas Palembang. Demikian pula bentuk atapnya, berupa piramid terpenggal. Namun, bagian pagar tenggalung tidak memakai kisi-kisi. Sebagai gantinya, bagian ini diberi dinding papan. Berbeda dengan rumah limas, bangunan ini tidak memakai dua tangga di bagian muka rumah. Sebagai gantinya, dipakai tangga berbahan batu yang terletak simetris di bagian depan.

Tidak diketahui, apakah dinding pada pagar tenggalung itu merupakan pembaharuan, ataukah memang sudah berbentuk demikian saat dibangun. Demikian pula dengan keberadaan tangganya. Sedangkan ruangan-ruangan di bawah rumah, berupa petak-petak berdinding bata dan kayu, dapat dipastikan merupakan tambahan yang baru dibuat.

Dari teras – jika merujuk struktur rumah limas berupa pagar tenggalung – lantai naik satu kekijing, dengan ukuran tinggi sekitar 30 cm. Ruang kedua ini menjadi ruang tamu. Naik satu kekijing, terdapat ruang keluarga dan kamar-kamar tidur. Ruangan-ruangan ini terdapat di satu bangunan rumah induk. Setelah dihubungkan dengan ruang terbuka (courtyard) yang merujuk ke rumah limas Palembang (bengkilas) untuk mandi dan mencuci, tetapi tidak berlantai kayu atau langsung ke tanah dan disemen. Naik satu tingkat, terdapat bangunan lagi, yang berfungsi sebagai ruang makan dan dapur (pawon). Rumah Darat merupakan rumah kedua yang dibangun Al Habib Abdurrahman Al Munawwar untuk putra pertamanya, Al Habib Muhammad Al Munawwar.

RUMAH TINGGI (Dibangun Akhir Abad 17)

Rumah ini sangat unik, karena berbentuk rumah gudang (lantai tidak bertingkat), tetapi memakai atap limas. Rumah ini berdinding kayu dan bertiang kayu, dan terbagi atas tiga ruangan, yaitu bagian depan, tengah, dan belakang. Bagian depan berupa teras terbuka yang bentuknya memanjang selebar bagian muka rumah. Bagian tengah terdiri atas ruang tamu, ruang keluarga, dan kamar tidur. Bagian belakang terdiri dari teras terbuka serupa bengkilas pada rumah limas, ruang makan, dan dapur serta ruang terbuka.

Bagian bawah rumah, yang seharusnya terbuka, tampaknya diberi dinding papan, pada masa setelahnya. Hal ini dapat dilihat pada karakter dinding “tambahan” itu, yang tidak menyiratkan pembangunan pada masa yang sama, atau bersamaan waktunya dengan pendirian bangunan utama.

Teras terbuka memanjang di bagian muka rumah, merupakan salah satu ciri rumah Indies yang dibangun bangsa Eropa di Nusantara. Bedanya, rumah ini didirikan dalam bentuk panggung bertiang. Sedangkan tangga yang berada di kiri dan kanan rumah mengadopsi tangga rumah limas tetapi dibuat saling berhadapan. Rumah ini merupakan rumah pertama yang dibangun oleh Al Habib Abdurrahman Al Munawwar.

RUMAH BATU (Dibangun Akhir Abad 18)

Rumah Batu tampak berbeda dengan arsitektur dan konstruksi rumah lain di Kampung Al Munawwar. Namun, secara struktur ruangan, rumah ini mengadopsi struktur Rumah Limas. Rumah ini didirikan di atas fondasi bata dan beton yang ditinggikan.

Struktur rumah yang berbentuk persegi panjang ini, seperti rumah lainnya, terdiri atas dua bangunan, yang dihubungkan oleh ruang terbuka di bagian tengah. Bangunan bagian depan terdiri atas teras tertutup, ruang tamu, ruang keluarga, dan kamar tidur. Bangunan bagian belakang terdapat ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai dapur dan ruang makan.

Struktur limas tampak pada lantai rumah yang dibuat bertingkat. Dari teras depan, lantai naik satu tingkat untuk bagian ruang tamu, ruang keluarga, dan kamar tidur. Dapur dan ruang makan yang ada di bangunan belakang, posisi lantainya lebih rendah dibanding bagian lainnya. Hal yang cukup menarik adalah kusen pintu depan rumah ini setinggi + 4m dan ubin marmer berukuran 50 cm x 50 cm yang diimpor langsung dari Italia. Model atap rumah ini adalah perisai, namun terdapat lerengan landai di keempat turunan bubungannya.

Rumah ini menjadi tempat berlindung semua warga Kampung Almunawwar saat berlangsungnya pertempuran 5 hari 5 malam, tepatnya tanggal 1 – 5 Jauari 1947. Dan merupakan rumah ketiga yang dibangun oleh Al Habib Abdurrahman Al Munawwar, diperuntukkan bagi putra ketiganya yaitu Al Habib Ali Al Munawwar.

RUMAH КАСА (Dibangun Akhir Abad 18)

Rumah ini berbentuk rumah gudang pada arsitektur rumah tradisional Palembang, bentuknya persegi panjang dengan elemen kaca menjadi penghias di atas jendela-jendela dan pintu-pintunya. Tangga terletak di samping kiri rumah, sehingga bagian muka menyerupai bentuk balkon dengan atapnya berbentuk perisai silang. Namun, ada sedikit penggalan di bagian depannya dan bentuk atap ini menyerupai rumah-rumah Indies kediaman bangsa Eropa yang berbahan bata.

Saat ini, rumah kaca berfungsi sebagai sekolah, yaitu Yayasan Perguruan Islam Al Kautsar. Dengan demikian, sebagian besar bagian rumah, baik lantai bawah maupun lantai dua, telah diubah menjadi ruang kelas. Namun demikian, fungsi asli bagian-bagian rumah -kecuali lantai bawah – masih tampak. Bagian depan berfungsi sebagai ruang tamu, bagian tengah terbagi dua; bagian pertama terdiri atas ruang keluarga, kamar tidur; dan peruntukan bagian kedua sebagai ruang makan dan dapur. Sedangkan bagian belakang berupa serambi atau teras terbuka. Apabila posisi ini disamakan dengan rumah Indies yang ditempati bangsa Eropa, bagian terbuka ini biasa dipakai sebagai tempat makan.

Lantai bawah, yang berdinding bata, tampaknya baru dibangun. Dugaan ini didasarkan pada sejarah pendidikan yang dipelopori muhajir Arab di Palembang pada awal abad ke-20. Para saudagar Arab, yang merupakan salah satu minoritas di Palembang, mendominasi masyarakat Palembang dalam bidang agama dan pendidikan. Pada tahun 1907, beberapa keluarga Arab mendirikan perkumpulan yang bergerak di bidang pendidikan dengan nama Al-Ihsan. Ini dilakukan sebagai jawaban atas warga Palembang etnis Cina, yang telah mendirikan sekolah terlebih dahulu. Sekolah yang bernama sama dengan nama perkumpulan ini didirikan di kawasan Kuto Batu. Pada tahun 1914, keluarga Almunawwar mendirikan Madrasah Al Arabiyah di Kampung Almunawwar.
Rumah ini diperuntukkan bagi putri keempat Abdurrahman Al Munawwar, Hababa Roguan Al Munawwar, yang diperistri Al Habib Alwi bin Syech bin Ahmad Assegaf atau lebih dikenal sebagai Al Habib Alwi Assegaf.

RUMAH KEMBAR LAUT (Dibangun Akhir Abad 18)

Rumah Kembar Laut merupakan dua buah rumah ditepian suang musi yang dibangun bersebelahan dengan bentuk sama dihubungkan oleh teras (garang), baik di bagian depan maupun belakang rumah, dan membentuk teras tertutup. Lantai bawah berdinding bata, dan lantai atas berdinding kayu. Kedua rumah ini dibangun hampir bersamaan dengan bentuk yang sama dibagian barat.
Kedua Rumah Kembar Laut terbagi atas tiga bagian, baik lantai bawah maupun atas. Di lantai bawah, terdapat teras terbuka di bagian depan. Bagian tengah terdiri dari ruang tamu dan ruang tidur, sedangkan bagian belakang terdiri dari teras terbuka. Di bagian belakang bangunan, terdapat bangunan tambahan yang difungsikan sebagai ruang makan dan dapur.

Lantai atas juga terdiri dari tiga bagian. Bagian depan berupa teras tertutup dan bagian tengah berupa ruang-ruang yang berfungsi sebagai kamar tidur, sedangkan bagian belakang berupa teras tertutup. Teras bagian depan dan teras bagian belakang juga berfungsi sebagai penghubung antar rumah. Model atap Rumah Laut adalah atap perisai. Berbeda dengan rumah-rumah lain di kampung ini, Rumah Laut memiliki hiasan atau berbahan besi runcing. Besi-besi ini terususun di atas bubungan. Hiasan yang sama juga didapati di bubungan teras yang menghubungkan kedua rumah. Di antara hiasan besi ini – dalam pola geometris – terdapat hiasan besi yang lebih panjang dan berhias lengkungan besi membentuk kelopak di bagian tengahnya. Di puncak hiasan, terdapat pola lengkungan kelopak dalam ukuran yang lebih kecil. Di puncak atap bagian sudut, juga terdapat besi yang lebih panjang. Berbeda dengan hiasan di bubungan, pola hias besi melengkung hanya terdapat di puncak besi.

Rumah ini diperuntukkan bagi putri pertama Al Habib Abdduraahman Al Munawwar, yaitu Habab Alawiyah Al Munawwar, yang diperistri Al Habib Abdullah bin Alwi bin Ahmad Assegaf.

REKOMENDASI

TERKAIT

Yuk Lihat Keindahan Objek Wisata Baru di Kota Palembang,...

Bagi masyarakat Palembang yang mau menghabiskan hari wekend atau berlibur untuk menikmati keindahan...

Ditengah Wabah Covid-19 Saat Ini, Objek Wisata Danau Jakabaring...

Di tengah wabah Covid-19 saat ini, wahana Olahraga air yang terletak di komplek...

Sungai Sekanak Lambidaro Palembang, Destinasi Wisata 2022

Daya tarik kota Palembang yang memiliki anak-anak sungai yang membuat banyak pihak tertarik...

35 Tempat Wisata Di Palembang Terkini Tahun 2020

Tempat Wisata di Palembang sangatlah banyak, mulai dari wisata kuliner, wisata religi dan...

Pantun Bahasa Palembang

Jalan-jalan kesungai batangJangan lupo bawak keranjangBuat apo adek belike kakak barangKalu duetnyo boleh...

Kantor Walikota Palembang, Sejak Dulu Hingga Kini

Kantor Walikota Palembang merupakan salah satu bangunan peninggalan kolonial belanda yang dahulunya merupakan...
- Advertisement -eyJwaG9uZSI6Ikphc2EgUGVtYnVhdGFuIFdlYnNpdGUgUGFsZW1iYW5nIn0=