Sabtu, 25 September, 2021

Sejarah Jembatan Ampera Palembang – Dilengkapi Gambar

Jasa Pembuatan Website Palembang
Ilustrasi Proses Pembangungan Jembatan Ampera – Design By Ebhie Febrian

Jembatan Ampera (Amat Penderitaan Rakyat) merupakan jembatan terpanjang di Palembang Provinsi Sumatera Selatan, Jembatan yang menghubungkan hulu dan hilir, karakter utama yang menonjol terdapatnya dua pilar besar dibagian tengah jembatan, yang berfungsi untuk mengangkat bagian tengah Jembatan ketika ada kapal besar ingin melintas.
Jembatan Ampera juga menjadi Landmark Kota Palembang, hingga kini jembatan Ampera yang dulunya Bernama Bung Karno tetap menjadi kebanggaan masyarakat Palembang Sumatera Selatan.

Alasan utamanya terbangunnya jembatan Ampera untuk menghubungkan daerah hulu dan hilir sehingga transportasi menjadi lancar dan otomatis juga memperlancar kehidupan, Jembatan Ampera merupakan hadiah bung Karno bagi masyarakat Palembang yang pada kala itu dananya diambil dari dana rampasan perang Jepang juga untuk membangun Monas Jakarta.

Dahulu jembatan ini sempat diberi nama jembatan Bung Karno, Mmenurut sejarawan Djohan Hanafiah pemberian nama Bung Karno pada Jembatan Ampera tersebut sebagai bentuk penghargaan Masyarakat kepada Presiden RI pertama itu Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang untuk memiliki sebuah jembatan diatas Sungai Musi. Namun Bung Karno sendiri tidak setuju penggunaan nama dirinya, sehingga tidak ada unsur individu maka nama Ampera lebih cocok sebagai gambaran sejarah yang melukiskan Amanat Penderitaan rakyat yang pernah menjadi slogan bangsa Indonesia pada tahun 1960-an.

Sejarah Jembatan Ampera pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan april tahun 1962, Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang jepang, tidak hanya biaya Jembatan, tenaga ahli untuk membangun Jembatan Ampera juga dibantu dari negara tersebut, peresmian pemakaian jembatan dilakukan pertama kali pada tahun 1965 tepatnya pada tanggal 30 September 1965 oleh Letjen Ahmad Yani.

Jembaran Ampera memiliki panjang keseluruhan 1177 Meter, terdapat dua menara setinggi 63 Meter, dan lebar 22 meter, pada bagian terngah Jembatan dapat diangkat agar kapal-kapal berukuran besar dapat lewat, mekanisme pengangkatan Jembatan bagian tengah dengan menggunakan bandul, waktu mengangkat yang dirasa lambat berkisar 30 menit, akhirnya Jembatan Ampera sudah tidak lagi dinaik turunkan alasannya waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini yaitu sekitar dianggap mengganggu arus lalu lintas antara Seberang Ulu dan seberang Ilir, alasan lainnya karena sudah tidak ada kapal besar yang bisa berlayar di Sungai Musi.

Pendangkalan sungai musi juga menjadi penyebab Sungai Musi tidak bisa di layar kapal berukuran besar sampai sekarang, Sungai Musi memang terus mengalami pendangkalan pada akhirnya tahun 1992, kedua bandul pemberat untuk menaikkan dan menurunkan bagian tengah jembatan yang masing-masing seberat 500 ton dibongkar dan diturunkan karena khawatir jika sewaktu-waktu benda itu jatuh dan menimpa orang yang melintasi di jembatan Jembatan Ampera.

Ilustrasi Jembatan Ampera Ketika Mengangkat Bagian Tengah – Design By Ebhie Febrian

Jembatan Ampera terhitung sudah berapa kali, pertama kali direnovasi pada tahun 1981 dengan sekitar 850 juta renovasi dilakukan setelah muncul kekhawatiran akan ancaman kerusakan Jembatan Ampera bisa membuatnya ambruk.
Cerita lainnya juga terjadi ketika era reformasi tahun 1997 beberapa onderdil jembatan ini diketahui dipreteli pencuri, pencurian dilakukan dengan memanjat menara jembatan dan memotong beberapa onderdil jembatan yang sudah tidak berfungsi.

Perubahan Warna Jembatan Ampera sudah mengalami tiga kali perubahan dari awal berdiri berwarna abu-abu, lalu pada Tahun 1992 diganti menjadi warna kuning dan terakhir di tahun 2002 perubahan warna kuning menjadi warna merah sampai saat ini.

REKOMENDASI

TERKAIT

- Advertisement -eyJwaG9uZSI6Ikphc2EgUGVtYnVhdGFuIFdlYnNpdGUgUGFsZW1iYW5nIn0=