Home Sejarah Palembang Mengenal Jembatan Ampera Icon Kota Palembang

Mengenal Jembatan Ampera Icon Kota Palembang

3D Jembatan Ampera Palembang

Jembatan Ampera merupakan suatu identitas yang otentik untuk Kota Palembang. Kesehariaan warga Palembang memang tidak lepas dari jembatan ini, karena Jembatan Ampera sebagai penghubung utama antara daerah hulu ke hilir pun sebaliknya dari hilir ke hulu, sebelum ada Jembatan Ampera warga Palembang yang ingin berpergian dari hulu ke hilir dan sebaliknya dilalukan dengan menumpang perahu ataupun kapal yang biasa membawa penumpang dari hulu ke hilir dan sebaliknya. Karena keterbatasan kapasitas angkut perahu dan kapal pembawa warga dari hulu ke hilir dan sebaliknya tidak besar dan membutuhkan waktu tempuh yang cukup lama. Atas dasar kepentingan rakyat dan betapa penting juga mendesaknya kebutuhan jembatan bagi warga di Kota Palembang. Presiden Republik Indonesia pertama Ir. Soekarno menyetujui untuk dibangun sebuah jembatan di tengah-tengah Kota Palembang di atas Sungai Musi.

Jembatan yang dikenal sebagai “Jembatan Ampera” dibangun dengan dana pampasan perang dari Jepang, adapun waktu yang dibutuhkan untuk membangun jembatan itu adalah kurang lebih 3 tahun. Pada tahun 1965 jembatan Ampera selesai dibangun, jembatan yang membentang di atas Sungai Musi berdiri dengan kokohnya dengan segala fasilitas modern dan terbaik dimasanya.

Awalnya jembatan diberi nama “Jembatan Soekarno” sebagai penghormatan kepada Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno yang telah membantu warga Palembang untuk memiliki sebuah jembatan di tengah-tengah Kota Palembang di atas Sungai Musi. Karena meletusnya peristiwa G-30-S PKI dan banyaknya penolakan nama Jembatan Soekarno. Presiden Ir. Soekarno menjadi kambing hitam dari peristiwa berdarah tersebut karena dahulu beliaulah yang memberikan lampu hijau berdirinya Partai Komunis Indonesia (PKI) dimana partai tersebut dianggap sebagai dalang meletusnya perisitiwa berdarah G-30-S dan akhirnya berdampak pada dicopotnya jabatan Bung Karno sebagai Presiden RI kemudian digantikan oleh Jenderal Soeharto.

Dampak penghapusan semua hal yang terkait Soekarno membuat nama “Jembatan Ampera” yang baru saja berdiri batal untuk diberikan nama “Jembatan Soekarno” lalu dicarikan nama lain yaitu Jembatan Ampera, dimana kata “AMPERA” merupakan singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat yang filosofi nama tersebut diambil dari peristiwa G-30-S PKI.

3D – Jembatan Ampera Palembang

Akhirnya jembatan yang dahulu dibangun dan diprakarsai oleh Presiden Republik Indonesia pertama Ir. Soekrano dikenal dengan sebutan Jembatan Ampera hingga saat ini dan menjadi sebuah ikon utama dari kota pempek Palembang. Itulah berbagai kisah dari sejarah perjuangan warga Palembang dalam upaya mereka merajut mimpi untuk memiliki sebuah jembatan di tengah-tengah Kota Palembang di atas sebuah sungai yaitu Sungai Musi.

Saat ini selain Ampera Ada 2 jembatan lain disebelah kiri dan kanan, jembatan musi IV dan Musi VI, sebagai upaya mengurangi arus lalu lintas yang menumpuk diatas Jembatan Ampera yang terus menerus bertambah, laju mobilitas warga Palembang memang tidak terlepas dari Jembatan Ampera, terlihat pada pagi dan sore hari saat semua warga Palembang keluar untuk berangkat dan pulang dari aktivitas sehari-hari Jembatan Ampera.

Kerlap-Kerlip Ampera
Setelah mengalami renovasi dan perbaikan, semenjak dicanangkannya program Visit Musi. Lampu-lampu yang menghiasi Jembatan Ampera merupakan salah satu daya tarik sendiri bagi para wisatawan yang berkunjungun ke Plaza Benteng Kuto Besak dimana tempat ini merupakan spot terbaik bagi wisatawan untuk menikmati keindahan Jembatan Ampera dan Sungai Musi terutama di malam hari. Lampu Jembatan Ampera berubah-ubah setiap beberapa menit.

Ditunjang dengan sarana yang memadai yaitu terdapatnya taman yang menghiasi keempat sudut Jembatan Ampera, sebagai lambang keadilan dan kesetaraan antara seberang hilir dan seberang hulu walaupun sampai saat ini nyatanya ketimpangan terjadi dimana bagian hilir lebih berkembang dari bagian hulu.

Exit mobile version